Di masa2 pengetikan skripsi yang panjang nan melelahkan itu, aku selalu membayangkan kelak kalo aku udah lulus, hal pertama yang bakal kutekuni adalah blogku. Aku bakal menuliskan setiap detil kehidupanku yang sudah berlalu, yang sedang terjadi, dan rencana2 yang akan akan datang. Aku membayangkan tar bakal ada satu edisi rangkaian penulisan dengan nada riang gembira, judulnya: AKHIRNYA LULUS JUGAAA MUAHAHAHA! Kira2 begitulah. Isinya jelas detil tentang masa2 menjelang compre, detik2 menentukan di dalam ruang sidang, masa2 sesudah itu yang sibuk berurusan dengan dokumen2 yang membuatku harus sering2 ngampus, yang katanya orang sih saat2 paling mengharukan karna itu adalah saat2 terakhir kita sering beredar di kampus. Tapi aku selalu menyanggah, aku ngga akan merindukan kampus ini. Sudah kelamaan ngampus sih, 6 tahun, yang ada pengen lekas2 meninggalkan kampus, Malang, beserta isinya memulai kehidupan baruku, mengejar ketertinggalanku dari temen2ku yang udah pada merantau dan memberdayakan usia produktif mereka habis2an. Masih sangat kerasa hari2 terkelamku dipenuhi ke-blankness-an dan rasa prustasi karna rasanya tumpul, idup teh ngga maju2, ngga percaya tengok deh postingan2 sebelum ini. Tapi postingan seperti itu ngga pernah ada, ngga pernah ter-posting, dan ngga pernah terketik. Hari2 berlalu sangat cepat rupanya, padahal aku belum sempat menghirup udara segar at all. Nah lo, kalo uda kaya gini mule de, bawaannya sperti mo ngeluh mulu, padahal tidak. Mana brani aku mengeluh setelah smua yang terjadi? Kalo aja aku ini punya daya ingatan yang kuat sperti mom, or very mendetail about life sperti tri, or kritis sperti tachan, or positif sperti mut, or serius but santé like pin, mungkin aku akan bisa memaknai kehidupan ini dengan lebih baik. Bukannya aku ngga memaknai kehidupanku, nope, what I’m saying is kalo aja aku bisa merangkaikan kisah kehidupanku dalam urutan yang benar, membingkai setiap peristiwanya dalam ingatanku supaya aku terus menerus diingatkan betapa berharganya kehidupan yang telah Dia beri ini. Yep, through difficulties and easiness, my life has always been made wonderful in His time. Bgitulah, skarang aku memulai babak baru kehidupan di Bali. Lepas dari orang tua, n temen2. Terasa berat skali sebenernya, but those whom I love never stop believing and supporting me sih, so I gotta move on aja. Surrender all my life to Him; cos He holds my future and life. So, my journey in Bali starts and keeps rolling by… | |||||